JAKARTA — Aksi demonstrasi besar pada Kamis, 27 Agustus 2026, menjadi perhatian pasar keuangan. Kekhawatiran terhadap dampak aksi massa terhadap stabilitas ekonomi sempat muncul, terutama terhadap pergerakan rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Namun, pasar saham justru bergerak positif. IHSG ditutup menguat 1,81 persen ke level 6.521,75 pada perdagangan Kamis.
Data Katadata mencatat seluruh 11 sektor saham menguat. Sektor industri menjadi penggerak utama dengan kenaikan 3,95 persen. Sektor barang konsumen non-primer dan kesehatan menyusul dengan penguatan masing-masing 3,79 persen dan 3,76 persen.
Nilai transaksi saham mencapai Rp13,66 triliun dengan frekuensi perdagangan sekitar 1,97 juta transaksi. Sebanyak 553 saham menguat, sedangkan 138 saham stagnan dan 96 saham melemah.
Kinerja pasar tersebut berbanding terbalik dengan kekhawatiran sejumlah ekonom mengenai dampak aksi demonstrasi terhadap perekonomian. Sebelumnya, ekonom Indef M. Rizal Taufikurahman memperingatkan bahwa demonstrasi 27 Agustus dapat memberi tekanan terhadap IHSG dan rupiah.
Di sisi lain, ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet melihat keresahan ekonomi sebagai salah satu latar belakang aksi massa. Menurut dia, tekanan terhadap kelas menengah semakin terasa akibat kenaikan biaya hidup, stagnasi upah riil, beban cicilan, serta ancaman pemutusan hubungan kerja.
Catatan CORE menunjukkan jumlah kelas menengah Indonesia turun menjadi sekitar 46,7 juta orang pada 2025, dari hampir 48 juta pada tahun sebelumnya dan sekitar 60 juta pada 2018. Sementara kelompok aspiring middle class telah mencapai sekitar 142 juta orang.
Situasi tersebut membuat persoalan ekonomi tidak lagi sekadar tercermin dalam indikator pasar, tetapi mulai terasa dalam konsumsi rumah tangga. Masyarakat disebut semakin menahan belanja dan menunda pembelian barang tahan lama.
Di tengah tekanan tersebut, pemerintah tetap optimistis terhadap pertumbuhan ekonomi. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan ekonomi Indonesia masih tumbuh kuat dengan pertumbuhan 5,45 persen pada semester I 2026.
Sementara itu, Bank Indonesia juga menyatakan dukungan terhadap target pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen.
Dengan demikian, perdagangan Kamis menunjukkan respons pasar yang relatif berbeda dari kekhawatiran terhadap gejolak sosial. IHSG mampu kembali menembus level 6.500, sementara tekanan ekonomi masyarakat masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah.
