Jakarta – Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper memperingatkan bahwa dunia harus segera membangun mekanisme pengendalian global untuk menghadapi ancaman yang ditimbulkan oleh kecerdasan buatan (AI).
Ia menyebut AI berpotensi menjadi tantangan keamanan terbesar dalam satu dekade mendatang dan mendesak kerja sama internasional untuk meredam risiko yang menyertainya.
Dalam artikel yang ditulis untuk lembaga think tank Chatham House berjudul "Posisi Inggris dalam Tatanan Dunia Baru," Cooper menarik paralel antara ancaman AI saat ini dengan upaya pengendalian senjata nuklir pasca-Perang Dunia II, termasuk pengalaman pengeboman atom di Hiroshima dan Nagasaki.
Ia mengatakan kesepakatan internasional soal nuklir baru tercapai setelah dunia menyaksikan sendiri daya rusak dahsyat teknologi tersebut, seraya mempertanyakan apa jadinya bila kekuatan itu jatuh ke tangan yang salah. Dunia, menurutnya, tidak bisa menunggu peristiwa setara Hiroshima terjadi dalam konteks AI sebelum mengambil langkah nyata.
Peringatan itu muncul di tengah laporan terbaru untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menyoroti potensi akibat bencana dari penyalahgunaan AI untuk kejahatan siber, penipuan, dan disinformasi.
Laporan tersebut menilai laju perkembangan teknologi ini telah melampaui kemampuan pemerintah di berbagai negara untuk beradaptasi dan merespons secara memadai.
Kekhawatiran serupa juga tercermin dari langkah Anthropic PBC yang sempat membatasi peluncuran model AI Mythos akibat kekhawatiran potensi penyalahgunaan untuk menemukan celah keamanan siber.
Cooper meyakini Inggris berada di posisi terdepan untuk memimpin diskusi global soal regulasi AI, mengingat negara itu menjadi tuan rumah KTT Keamanan AI pertama di dunia pada 2023 yang mempertemukan para pemimpin negara dan petinggi perusahaan teknologi, termasuk Elon Musk.
"Kita hanya bisa memanfaatkan peluang besar dari teknologi mutakhir jika ada konsensus internasional yang memadai soal cara menangani risiko keamanan dan batasannya," tegasnya.
Dalam artikel yang sama, Cooper turut menyoroti apa yang disebutnya sebagai "badai sempurna" yang tengah dihadapi Inggris, mulai dari meningkatnya proteksionisme, fragmentasi geopolitik, hingga pesatnya laju perkembangan teknologi.
Ketidakstabilan global, kata dia, kini berdampak langsung pada kehidupan warga Inggris, bukan lagi sekadar isu yang jauh di luar sana.
Ia juga menyinggung pergeseran peran Amerika Serikat yang dinilainya mulai menarik diri dari posisi sebagai penjamin keamanan global.
"Amerika Serikat secara bertahap menarik diri dari peran sebelumnya sebagai penjamin keamanan global," ujarnya, seraya menambahkan bahwa Inggris tidak lagi bisa berharap Washington mengambil alih peran yang sama seperti masa lalu.
Atas dasar itu, Cooper mendorong Inggris membangun hubungan keamanan yang lebih terstruktur dengan Eropa, termasuk memperkuat Organisasi Pakta Atlantik Utara (NATO) yang lebih berorientasi Eropa sebagai inti arsitektur keamanan benua tersebut.
Ia juga mengajak London merajut kemitraan yang erat namun stabil dengan Uni Eropa, ketimbang terus bergantung pada negosiasi yang terfragmentasi dan berlarut-larut pasca-Brexit.
Mengurangi ketergantungan pada satu sekutu tunggal, tulis Cooper, pada akhirnya akan membuat Inggris lebih kuat dan mandiri dalam menghadapi ketidakpastian global ke depan.
